KUMPULAN POSTINGAN, ARTIKEL & EBOOK :

Jumat, 30 Juni 2017

KRITIK MUHAMMAD ALI TERHADAP ISLAMFOBIA DONALD TRUMP DAN PANDANGANNYA TENTANG ISIS


Ikon tinju dunia Muhammad Ali mengkritik kandidat presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyerukan pelarangan muslim memasuki negaranya.

Ali, yang seorang muslim, tidak menyebut nama kandidat dari Partai Republik itu, tapi pernyataannya yang disiarkan oleh NBC dan ABC terlihat diarahkan tepat ke Trump.

"Berbicara sebagai orang yang belum pernah menyampaikan pembenaran politik, saya percaya bahwa para pemimpin politik kita harus menggunakan kedudukannya guna memberikan pemahaman tentang agama Islam dan menjelaskan bahwa para pembunuh sesat itu telah menyimpangkan pandangan orang tentang Islam yang sebenarnya," kata Muhammad Ali mengacu para serangan teror terkini.
Mantan juara tinju kelas berat berusia 73 tahun itu terdorong ikut dalam debat ketika Presiden Barack Obama menyebutkan bahwa sebagian muslim di Amerika Serikat adalah tentara, warga negara dan pahlawan olahraga, dan Trump mengajak warga Amerika Serikat berpikir kembali tentang pahlawan olahraga muslim.

"Saya seorang muslim dan tidak ada yang Islami tentang pembunuhan orang-orang tidak bersalah di Paris, San Bernardino, atau di mana pun di dunia," demikian pernyataan Ali.

"Muslim sejati paham bahwa kekerasan kejam dari apa yang disebut jihadis Islam bertentangan dengan ajaran agama Islam kami. Sebab setiap muslim paham bahwa tidak boleh kita memaksakan Islam kepada manusia lain. Sudah jelas bila jihadis itu menerapkan tafsir yang salah atas Islam.", jelasnya.
Ali menghimbau umat Islam untuk tidak membiarkan nama Muslim digunakan pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dalam pemilihan umum.
Selain itu, Ali juga menyinggung kekerasan yang dilakukan oleh kelompok yang menyebut dirinya ISIS bertentangan dengan ajaran Islam.

Ali, yang semasa muda berbicara lantang, memenangkan gelar juara tinju kelas berat dunia dan dilarang bermain tinju hampir empat tahun di masa jayanya karena menentang Perang Vietnam atas dasar agama.

Dia dinyatakan bersalah melakukan penghindaran tapi Mahkamah Agung membalikkan putusannya pada 1971, dan perjuangannya membuat dia menjadi figur ikonik melampaui dunia olahraga, demikian seperti dilansir kantor berita AFP.
Dalam cerita berbeda, sang petinju itu tertarik pada Islam karena mengajarkan kesetaraan antar umat manusia. Pada 1960, sepulang dari memenangkan medali emas Olimpiade untuk tinju, Ali muda mampir ke toko burger.
Ternyata pelayan menolak menjual burger untuknya karena dia berkulit hitam. Walau dijelaskan bahwa dia adalah petinju pemenang Olimpiade, pelayan itu tetap bergeming.
Pengalaman diskriminasi itu begitu membekas. Pada 1964, sebelum meraih gelar juara dunia ketiganya, Ali menjalin komunikasi intensif dengan Malcolm X dan Elijah Muhammad dari organisasi Nation of Islam (NOI).
Ormas NOI menggabungkan ajaran Islam dengan agenda kesetaraan ras bagi warga kulit hitam Amerika Serikat yang masih mengalami diskriminasi kala itu.
Lambat laun, Clay tertarik pada ajaran Islam. Dia menganggap ajaran Nabi Muhammad itu memiliki tujuan emansipasi bagi seluruh umat manusia.
Setelah berhasil memenangkan pertandingan melawan Liston, dan meraih gelar juara dunia, tahun itu juga Clay mengubah namanya menjadi Cassius X, lalu Muhammad Ali. "Saya membuang nama budak saya," ujarnya saat itu.
"Ajaran Islam adalah kesetaraan bagi seluruh manusia," kata Ali menambahkan.

SUMBER :
http://www.antaranews.com, Sabtu, 10 Desember 2015
- http://www.bbc.com, Minggu, 11 Desember 2015
- www.merdeka.com, Minggu, 5 Juni 2016

RELATED POST :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar